Tuesday, August 26, 2008

Peta Kekuatan Serie A


ROMA - Dalam tiga musim terakhir, Inter Milan menjadi penguasa Serie A, tanpa mendapat gangguan berarti dari rivalnya. Musim depan, Serie A belum tentu menjadi milik Inter. Juventus, AS Roma dan AC Milan siap merebut tahta Scudetto.

Kekuatan Inter Milan peninggalan pelatih Roberto Mancini sudah solid. Terbukti, hingga pekan terakhir Inter melenggang sendirian di puncak klasemen, dengan mengumpulkan 85 poin hasil dari 25 kemenangan, 10 imbang dan tiga kali kalah.

Inter merekrut Jose Mourinho sebagai arsitek. Publik Italia menilai, kehadiran Mourinho di Inter memberikan kekuatan tersendiri kendati komposisi pemain tidak banyak berubah.

Mantan pembesut Chelsea itu tidak banyak mengubah pemain. Mourinho hanya mendatangkan Amantino Mancini, Sulley Muntari dan mendatangkan kembali Adriano. Kekuatan Inter memang belum teruji di laga pra-musim. Kalah 0-1 dari Juventus di Trefeo Cup, menang 1-0 dari Bayern Munich dan Ajax Amsterdam.

Untuk formasi tim, Mourinho adalah penganut sepakbola efektif. Baginya tidak penting bermain indah, yang terpenting adalah kemenangan. Mancini menjadi andalan di sektor sayap. Duet Zlatan Ibrahimovic dan Adriano akan mengisi lini depan. Mourinho tidak banyak merubah skema di lini belakang dan tengah yang dinilainya masih efektif.

Ancaman pertama Inter datang dari AS Roma. Kekuatan Roma di musim depan sedikit berkurang. Runner-up musim lalu ini harus kehilangan Mancini dan Ludovic Giuly. Pembelian tersukses Luciano Spaletti adalah mendatangkan bek John Arne Riise.

Kampanye musim depan Giallorossi ternoda setelah dihancurkan Tottenham Hotspurs 0-5. Kekalahan ini makin menegaskan jika Roma menjadi Srigala ompong jika berlaga di luar Italia.

Gladiator tua Francesco Totti, adalah andalan Spaletti di lini depan. Sebagai tandemnya, Spaletti punya pilihan pada diri Mirko Vucinic, Mauro Esposito dan veteran Vicenzo Montella.

Juventus adalah salah satu ancaman terbesar bagi Inter Milan. Pemegang 27 kali gelar Scudetto ini adalah penghuni tetap papan atas Serie A. Apapun kondisi Juve, publik sepakbola Italia selalu mengedepankan Nyonya Besar sebagai favorit juara.

Semusim berpetualang di Serie B, Juve langsung merangsek ke posisi tiga klasemen akhir musim lalu. Target yang diberikan kepada pelatih Claudio Ranieri memang hanya mengambalikan posisi Juve ke zona Liga Champions, dan itu sukses diberikan Ranieri.

Musim depan target itu berubah. Ranieri diminta mengembalikan gelar Scudetto yang sudah tiga musim tidak mendarat di Turin. Sebagai langkah awal, Ranieri mendatangkan striker Amauri Carvalho, bek Olof Melberg, gelandang Christian Poulsen dan menarik striker muda Sebastian Giovinco.

Pertahanan Juve disebut sebagai yang terbaik di Italia. Kiper Gianluigi Buffon berada dibelakang empat bek tangguh yang digalang Giorgio Chiellini dan Nicola Legrotagllie. Lini tengah masih diisi muka lama, seperti Pavel Nedved, Mauro Camoranesi, Cristiano Zanetti dan Momo Sissoko.

Ranieri sedikit putar otak menentukan siapa yang berada di lini depan. Posisi Alessandro Del Piero tidak tergoyahkan. Sebagai pendamping, Ranieri tinggal memilih David Trezeguet, Vicenzo Iaquinta, Amauri, atau Giovinco.

Terakhir, adalah AC Milan. Kekuatan Milan masih tersembunyi. Pasalnya, para bintang Rossoneri ini masih belum hadir. Kaka menjalani perawatan cedera lutut, Pato dan� Ronaldinho membela Brasil di Beijing.

Bila menggunakan kekuatan penuh, bisa dibayangkan bagaimana dahsyatnya permainan Andrea Pirlo, Genarro Gattuso, Kaka dan Alexandre Pato. Ancelotti memang masih menghadapi masalah klasik, yakni rapuhnya lini belakang yang berisikan pemain uzur. Namun, Ancelotti punya prinsip pertahanan terbaik adalah menyerang. Menurutnya, kerapuhan lini belakang akan tertutup dengan gempuran lini depan.
(zwr)

No comments: